Tam Tam berpose sebelum tidur.
Pagi
itu setiba di kantor saya mengirim BBM kepada adik memberitahukan keberadaan
kitten tersebut dan agar meminta tetangga untuk mengeluarkan kitten tersebut
dari rumahnya untuk diserahkan kepada kami. Kami tidak ingin kitten tersebut
menjadi korban pembuangan kembali, karena kami tahu tetangga kami tersebut
tidak menyukai kucing.
Siang
hari saya mendapat kabar yang sedikit melegakan bahwa dari adik bahwa kitten
tersebut sudah keluar dari rumah tetangga dan ada disekitar rumah kami. Kitten
tersebut tidak berani masuk kerumah kami, dia hanya ada diluar pagar dan
kadang-kadang bersembunyi bila ada orang lewat. Sepertinya kitten tersebut trauma
terhadap keberadaan manusia.
Selama
hampir 1 minggu kitten tersebut berada disekitar rumah kami, tetapi sudah
berani berdiam didalam halam rumah dan berdekatan dengan kucing-kucing lain
milik kami yang mendiami halaman depan dan teras. Juga sudah mulai ikut makan
dry food dan bermain bersama kucing lain. Meski belum mau kami sentuh,
jangankan disentuh mendengar langkah kaki kami saja dia akan terbirit-birit
lari bersembunyi ke dalam got rumah.
Setelah
mendekati minggu kedua, rupanya kitten hitam putih yang sudah mulai ramah, dia
mulai mau disentuh oleh kami. Menurut kami mungkin karena dia melihat sendiri
bagaimana perlakuan kami terhadap kucing-kucing lain yang ada disitu. Mendekati
minggu ketiga, trauma terhadap manusia sudah mulai menipis atau mungkin dia
sudah bisa membedakan manusia baik dan jahat terhadap dia. Kitten tersebut
tersebut bahkan sudah mau dibelai dan digendong. Bahkan ..ahaaa dia sudah
bermanja pada kami dan….suatu hari kami mempersilahkan dia untuk masuk kedalam
rumah. Hasilnyaaa…..kitten tersebut tidak mau keluar rumah lagi hingga saat ini
!!! Dan dia punya nama sekarang, saya menamainya Tam Tam :D , karena wajahnya hitam.
Tam
Tam seolah ingin melupakan trauma dan masa lalunya yang tidak indah, seakan
bagian luar rumah adalah daerah berbahaya. Setiap adik saya gendong menuju
pintu rumah seakan mengajaknya keluar, dia pasti akan berlalu masuk kedalam
rumah, tepatnya ketempat favoritnya , comfort zone nya yaitu diatas kardus yg
dialasi potongan handuk dekat dapur. Memang setiap dia selesai melakukan aktivitas,
bermain, makan atau membuang kotoran Tam Tam pasti akan kembali kesitu. Kami
juga menghindari Tam Tam dari suara kresek kantong plastic, dia pasti akan
terkejut dan waspada. Menurut adik saya Tam Tam trauma terhadap kantong plastic
kemungkinan karena dia adalah korban anak kucing yang dibuang manusia dengan
kantong plastic.
Ditempat
favoritnya Tam Tam rajin membersihkan diri, bulu hitamnya halus dan mengkilap.
Ia selalu menyapa dengan suaranya yang tidak selantang beberapa waktu lalu.
Mungkin karena Tam Tam sudah tak perlu teriak memanggil Ibu dan saudaranya
karena kini Tam Tam sudah menjadi kucing manis yang mempunyai, keluarganya
sendiri, rumah sendiri…itulah kami dan rumah kami J
Please
keep stay with us, Tam Tam till death do us apart.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar