Minggu, 15 Juli 2012

The Story Of Tam Tam (Part. 02)

Tam Tam berpose sebelum tidur.

Pagi itu setiba di kantor saya mengirim BBM kepada adik memberitahukan keberadaan kitten tersebut dan agar meminta tetangga untuk mengeluarkan kitten tersebut dari rumahnya untuk diserahkan kepada kami. Kami tidak ingin kitten tersebut menjadi korban pembuangan kembali, karena kami tahu tetangga kami tersebut tidak menyukai kucing.
Siang hari saya mendapat kabar yang sedikit melegakan bahwa dari adik bahwa kitten tersebut sudah keluar dari rumah tetangga dan ada disekitar rumah kami. Kitten tersebut tidak berani masuk kerumah kami, dia hanya ada diluar pagar dan kadang-kadang bersembunyi bila ada orang lewat. Sepertinya kitten tersebut trauma terhadap keberadaan manusia.
Selama hampir 1 minggu kitten tersebut berada disekitar rumah kami, tetapi sudah berani berdiam didalam halam rumah dan berdekatan dengan kucing-kucing lain milik kami yang mendiami halaman depan dan teras. Juga sudah mulai ikut makan dry food dan bermain bersama kucing lain. Meski belum mau kami sentuh, jangankan disentuh mendengar langkah kaki kami saja dia akan terbirit-birit lari bersembunyi ke dalam got rumah.
Setelah mendekati minggu kedua, rupanya kitten hitam putih yang sudah mulai ramah, dia mulai mau disentuh oleh kami. Menurut kami mungkin karena dia melihat sendiri bagaimana perlakuan kami terhadap kucing-kucing lain yang ada disitu. Mendekati minggu ketiga, trauma terhadap manusia sudah mulai menipis atau mungkin dia sudah bisa membedakan manusia baik dan jahat terhadap dia. Kitten tersebut tersebut bahkan sudah mau dibelai dan digendong. Bahkan ..ahaaa dia sudah bermanja pada kami dan….suatu hari kami mempersilahkan dia untuk masuk kedalam rumah. Hasilnyaaa…..kitten tersebut tidak mau keluar rumah lagi hingga saat ini !!! Dan dia punya nama sekarang, saya menamainya Tam Tam  :D , karena wajahnya hitam.
Tam Tam seolah ingin melupakan trauma dan masa lalunya yang tidak indah, seakan bagian luar rumah adalah daerah berbahaya. Setiap adik saya gendong menuju pintu rumah seakan mengajaknya keluar, dia pasti akan berlalu masuk kedalam rumah, tepatnya ketempat favoritnya , comfort zone nya yaitu diatas kardus yg dialasi potongan handuk dekat dapur.  Memang setiap dia selesai melakukan aktivitas, bermain, makan atau membuang kotoran Tam Tam pasti akan kembali kesitu. Kami juga menghindari Tam Tam dari suara kresek kantong plastic, dia pasti akan terkejut dan waspada. Menurut adik saya Tam Tam trauma terhadap kantong plastic kemungkinan karena dia adalah korban anak kucing yang dibuang manusia dengan kantong plastic.
Ditempat favoritnya Tam Tam rajin membersihkan diri, bulu hitamnya halus dan mengkilap. Ia selalu menyapa dengan suaranya yang tidak selantang beberapa waktu lalu. Mungkin karena Tam Tam sudah tak perlu teriak memanggil Ibu dan saudaranya karena kini Tam Tam sudah menjadi kucing manis yang mempunyai, keluarganya sendiri, rumah sendiri…itulah kami dan rumah kami J
Please keep stay with us, Tam Tam till death do us apart.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar