Edelwis
Kepada kamu yang selalu memberiku seikat edelwis setiap kali turun mendaki gunung beberapa tahun lalu.
Kepada kamu yang selalu memperdengarkan lagu-lagu Al Jerrau setiap kali kita bertemu dan berbincang beberapa tahun.
Kepada kamu, aku selalu ingat itu.....
Pet·ri·chor
Aku hadir bersama hujan
Rabu, 22 Januari 2014
Sabtu, 28 Juli 2012
Melintasi ¼ Pulau Jawa
Mungkin terlalu berlebihan judul
yang saya tulis diatas, whatever karena itu juga hanya perkiraan saya. Buat sebagian orang yang berasal dari daeran
Jawa mungkin perjalanan menuju Semarang
dengan mobil bukan hal yang istimewa, karena setidaknya merekan melakukannya
setahun sekali dalam rangka pulang kampung lebaran . Tetapi tidak untuk saya
yang note bene tidak punya kampung halaman jauh, kampung saya di Jakarta .
Saya sudah beberapa kali pergi ke
Semarang untuk penugasan kerja dari kantor, biasanya melalui udara atau bila
dengan darat yaaahh dengan kereta api. Tapi tidak untuk kali ini, buat saya ini
perjalanan istimewa melalui darat dan pertama kalinya….dengan mobil !!!
Sejujurnya saya exicated sekali
ketika rekan kerja saya menawarkan perjalanan bersama ke Semarang dengan mobil,
selain biayanya lebih murah juga saya bisa menikmati perlintasaan beberapa kota
berbeda menuju Semarang. Sudah terbayang banyak view yang akan saya lihat dan
pengalaman yang bisa menjadi cerita, tapi sayang tak banyak yang bisa saya
abadikan dalam bentuk gambar karena pada awalnya saya tak berencana menulisnya
dalam blog. Gambar yang saya ambil hanya satu dua gambar saja ketika melintasi
Cirebon seperti gunung Ciremai, pembawa daun jati diatas truk atau matahari
terbenam yang sempat saya abadikan ketika mendekati Cirebon menuju Jakarta.
Menyesal saya tak berfoto dengan
latar belakang Mesjid Agung Kendall seusai shalat Magrib, tepatnya sih karena saya
sungkan berfoto ria ditengah penduduk setempat yang sedang bergegas menuju
memasuki halaman mesjid untuk shalat Taraweh. Atau mengabadikan persimpangan Alas Roban yang buat saya adalah
lintasan legenda karena pernah menjadi perlintasan paling ditakuti terutama
oleh pengemudi bis lintas Jawa atau pengemudi truk. Ya, karena wilayah ini
pernah menjadi wilayang kaum begal atau perampok jalanan. Saya lebih terkesima
menikmati sisa keangkeran area itu ketimbang mengambil beberapa gambarnya.
Begitu juga ketika berbuka puasa di area Batang yang masih dilingkupi hutan
jati dikanan kirinya atau perlintasan Pantura yang seakan tak ada habisnya.
Truk-truk besar yang berseliweran telah menelan konsentrasi saya ketimbang mencari
spot menarik untuk difoto.
Saya berharap suatu saat bisa
punya kesempatan melintasi ¼ pulau Jawa lagi dan mengabadikan view atau
spot-spot menarik disana.
Minggu, 15 Juli 2012
The Story Of Tam Tam (Part. 02)
Tam Tam berpose sebelum tidur.
Pagi
itu setiba di kantor saya mengirim BBM kepada adik memberitahukan keberadaan
kitten tersebut dan agar meminta tetangga untuk mengeluarkan kitten tersebut
dari rumahnya untuk diserahkan kepada kami. Kami tidak ingin kitten tersebut
menjadi korban pembuangan kembali, karena kami tahu tetangga kami tersebut
tidak menyukai kucing.
Siang
hari saya mendapat kabar yang sedikit melegakan bahwa dari adik bahwa kitten
tersebut sudah keluar dari rumah tetangga dan ada disekitar rumah kami. Kitten
tersebut tidak berani masuk kerumah kami, dia hanya ada diluar pagar dan
kadang-kadang bersembunyi bila ada orang lewat. Sepertinya kitten tersebut trauma
terhadap keberadaan manusia.
Selama
hampir 1 minggu kitten tersebut berada disekitar rumah kami, tetapi sudah
berani berdiam didalam halam rumah dan berdekatan dengan kucing-kucing lain
milik kami yang mendiami halaman depan dan teras. Juga sudah mulai ikut makan
dry food dan bermain bersama kucing lain. Meski belum mau kami sentuh,
jangankan disentuh mendengar langkah kaki kami saja dia akan terbirit-birit
lari bersembunyi ke dalam got rumah.
Setelah
mendekati minggu kedua, rupanya kitten hitam putih yang sudah mulai ramah, dia
mulai mau disentuh oleh kami. Menurut kami mungkin karena dia melihat sendiri
bagaimana perlakuan kami terhadap kucing-kucing lain yang ada disitu. Mendekati
minggu ketiga, trauma terhadap manusia sudah mulai menipis atau mungkin dia
sudah bisa membedakan manusia baik dan jahat terhadap dia. Kitten tersebut
tersebut bahkan sudah mau dibelai dan digendong. Bahkan ..ahaaa dia sudah
bermanja pada kami dan….suatu hari kami mempersilahkan dia untuk masuk kedalam
rumah. Hasilnyaaa…..kitten tersebut tidak mau keluar rumah lagi hingga saat ini
!!! Dan dia punya nama sekarang, saya menamainya Tam Tam :D , karena wajahnya hitam.
Tam
Tam seolah ingin melupakan trauma dan masa lalunya yang tidak indah, seakan
bagian luar rumah adalah daerah berbahaya. Setiap adik saya gendong menuju
pintu rumah seakan mengajaknya keluar, dia pasti akan berlalu masuk kedalam
rumah, tepatnya ketempat favoritnya , comfort zone nya yaitu diatas kardus yg
dialasi potongan handuk dekat dapur. Memang setiap dia selesai melakukan aktivitas,
bermain, makan atau membuang kotoran Tam Tam pasti akan kembali kesitu. Kami
juga menghindari Tam Tam dari suara kresek kantong plastic, dia pasti akan
terkejut dan waspada. Menurut adik saya Tam Tam trauma terhadap kantong plastic
kemungkinan karena dia adalah korban anak kucing yang dibuang manusia dengan
kantong plastic.
Ditempat
favoritnya Tam Tam rajin membersihkan diri, bulu hitamnya halus dan mengkilap.
Ia selalu menyapa dengan suaranya yang tidak selantang beberapa waktu lalu.
Mungkin karena Tam Tam sudah tak perlu teriak memanggil Ibu dan saudaranya
karena kini Tam Tam sudah menjadi kucing manis yang mempunyai, keluarganya
sendiri, rumah sendiri…itulah kami dan rumah kami J
Please
keep stay with us, Tam Tam till death do us apart.
The Story Of Tam Tam ( Part. 01)
The Face of Tam Tam while she is sleeping
Kisah
Tam Tam berawal pada suatu malam, ketika saya sedang membersihkan area kucing
saya dibelakang rumah seperti biasa sepulang kerja sebelum tidur. Sayup-sayup
dari arah komplek perumahan tetangga dibelakang rumah saya yang dipisahkan oleh
sungai kecil, terdengar suara tangisan kitten mungkin memanggil Ibunya karena
kelaparan ingin menyusu. Suara tangisan yang memilukan itu menusuk-nusuk ulu
hati saya dan membuat saya galau tidak focus bekerja dan . Saya mengira itu adalah suara seekor kitten
yang dibuang orang.
Menjelang
jam setengah 11 malam selesai membersihkan area belakang rumah, saya dengan
adik bergegas menuju lokasi arah suara tangisan kitten tersebut yang saat kami
kesana sudah tidak terdengar lagi. Dalam kegelapan dengan berbekal senter saya
dan adik mencari kitten tersebut diantara rerumputan dan tumpukkan sampah.
Tetapi hasilnya nihil. Masih dengan hati galau kami kembali ke rumah.
Setelah
beberapa menit kami masuk ke rumah, kami kembali mendengar tangisan kitten tersebut
tapi dari arah depan rumah sebelah kiri, tepatnya dekat rumah tetangga paling
ujung sebelah kiri. Kegalauan hati saya dan adik mendorong kami segera kembali
keluar rumah dan berjalan kearah suara. Setelah senter sana, senter sini kami
tetap tak menemukan sosok kitten tersebut, justru yang kami temui adalah salah
satu kucing kami Ma’ Belang yang sedang duduk sedang menahan kantuk mungkin
juga karena mendengar suara tangisan kitten tersebut.
Masih
dengan hati penuh tanda Tanya kami kembali masuk kedalam rumah, sambil tak
henti memikirkan keberadaan kitten tersebut setelah kembali mencari
disekeliling rumah dan di got depan rumah yang tidak ada airnya. Dari dalam
rumah suara itu kadang-kadang terdengar kembali, entah kenapa suaranya sekarang
terdengar tak tentu. Kadang jauh, kadang dekat, kadang kencang , kadang sayup…
Kami
akhirnya memutuskan tidur karena jam sudah mendekati jam 12 malam, sambil
bertekad akan meneruskan pencarian besok pagi . Belum juga mata terpejam,
tiba-tiba tangisan kitten itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Adik saya
mencoba melihat dari jendela kamar yang menghadap kedepan rumah, tak ada
apa-apa hanya gelap malam yang disinari lampu teras dan lampu jalanan. Suara
kitten tersebut seperti memecah keheningan malam dan menusuk tak Cuma hati
saya, tetapi juga telinga saya. Saya tidak bisa tidur hingga menjelang dini
hari…..
Keesokkan
harinya sebelum saya berangkat kerja sekitar jam 5 pagi, saya mencoba mencari
kembali kitten tersebut, menjelang keberangkatan saya mendegar suara kitten
tersebut kali ini dari arah rumah tetangga sebelah kanan. Saya mencoba
mengintip dari balik pagar, benar saja seekor kitten mungil berbulu hitam
dengan dengan sebagian wajah dan tubuh bagian dalam berwarna putih sedang
berterika menangis memanggil ibunya. Anehnya tetangga saya seperti tuli telinga
dan bisa tidur lelap mendengar tangisan mahluk hidup mungil yang ada dibawah
jendela kamarnya.
To be continue....
Jumat, 29 Juni 2012
Chemistry
Sepertinya ada medan magnet didunia ini yang selalu mempertemukan kita dan titik pusatnya itu berada disini. Di Amerika, tempat yang justru begitu jauh dari negaraku maupun negaramu.
to be continue.......
Jumat, 22 Juni 2012
Vigo
Kaulah yang telah menarikkan benang merah antara aku dan tanah kelahiranmu yang akan aku kunjungi satu hari nanti....
Langganan:
Postingan (Atom)





