Minggu, 15 Juli 2012

The Story Of Tam Tam ( Part. 01)

The Face of Tam Tam while she is sleeping

Kisah Tam Tam berawal pada suatu malam, ketika saya sedang membersihkan area kucing saya dibelakang rumah seperti biasa sepulang kerja sebelum tidur. Sayup-sayup dari arah komplek perumahan tetangga dibelakang rumah saya yang dipisahkan oleh sungai kecil, terdengar suara tangisan kitten mungkin memanggil Ibunya karena kelaparan ingin menyusu. Suara tangisan yang memilukan itu menusuk-nusuk ulu hati saya dan membuat saya galau tidak focus bekerja dan .  Saya mengira itu adalah suara seekor kitten yang dibuang orang.
Menjelang jam setengah 11 malam selesai membersihkan area belakang rumah, saya dengan adik bergegas menuju lokasi arah suara tangisan kitten tersebut yang saat kami kesana sudah tidak terdengar lagi. Dalam kegelapan dengan berbekal senter saya dan adik mencari kitten tersebut diantara rerumputan dan tumpukkan sampah. Tetapi hasilnya nihil. Masih dengan hati galau kami kembali ke rumah.
Setelah beberapa menit kami masuk ke rumah, kami kembali mendengar tangisan kitten tersebut tapi dari arah depan rumah sebelah kiri, tepatnya dekat rumah tetangga paling ujung sebelah kiri. Kegalauan hati saya dan adik mendorong kami segera kembali keluar rumah dan berjalan kearah suara. Setelah senter sana, senter sini kami tetap tak menemukan sosok kitten tersebut, justru yang kami temui adalah salah satu kucing kami Ma’ Belang yang sedang duduk sedang menahan kantuk mungkin juga karena mendengar suara tangisan kitten tersebut.
Masih dengan hati penuh tanda Tanya kami kembali masuk kedalam rumah, sambil tak henti memikirkan keberadaan kitten tersebut setelah kembali mencari disekeliling rumah dan di got depan rumah yang tidak ada airnya. Dari dalam rumah suara itu kadang-kadang terdengar kembali, entah kenapa suaranya sekarang terdengar tak tentu. Kadang jauh, kadang dekat, kadang kencang , kadang sayup…
Kami akhirnya memutuskan tidur karena jam sudah mendekati jam 12 malam, sambil bertekad akan meneruskan pencarian besok pagi . Belum juga mata terpejam, tiba-tiba tangisan kitten itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Adik saya mencoba melihat dari jendela kamar yang menghadap kedepan rumah, tak ada apa-apa hanya gelap malam yang disinari lampu teras dan lampu jalanan. Suara kitten tersebut seperti memecah keheningan malam dan menusuk tak Cuma hati saya, tetapi juga telinga saya. Saya tidak bisa tidur hingga menjelang dini hari…..
Keesokkan harinya sebelum saya berangkat kerja sekitar jam 5 pagi, saya mencoba mencari kembali kitten tersebut, menjelang keberangkatan saya mendegar suara kitten tersebut kali ini dari arah rumah tetangga sebelah kanan. Saya mencoba mengintip dari balik pagar, benar saja seekor kitten mungil berbulu hitam dengan dengan sebagian wajah dan tubuh bagian dalam berwarna putih sedang berterika menangis memanggil ibunya. Anehnya tetangga saya seperti tuli telinga dan bisa tidur lelap mendengar tangisan mahluk hidup mungil yang ada dibawah jendela kamarnya.  

To be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar